Baccarat Forum_Indonesian Gaming Company_Indonesia Casino_Bookmaker Ranking_Genting Online Gambling

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:bet36sportsbetting

SIntIntroduction to IndonesiIntroduction to Indonesia Lotterya Lotteryroduction to Indonesia Lotteryaya tidak mau menyimpan sakit hati yang terus-menerus. Seketika sakit hati wajar saja, tapi setelahnya saya harus bisa menetralkan rasa. Karena semakin lama menyimpan sakit hati, semakin saya akan menyakiti diri sendiri. Semakin saya menyimpan dendam, maka semakin saya tidak bisa maksimal mewujudkan masa depan.

Punya masa depan yang cerah tentu jadi harapan semua orang. Bisa hidup mapan, karir tinggi, punya penghasilan yang cukup – pastinya semua orang mengamini. Dan untuk mewujudkan hal itu, setiap orang pun terpacu untuk berusaha dan memaksimalkan kemampuan dirinya.

“Tugas kelompok biar aku aja yang ngerjain. Kayaknya aku lebih tahu tentang tema ini daripada kamu.”

Namun dalam perjalanan menggapai kesuksesan, seringkali muncul berbagai halangan. Kadang kita pun harus melewati momen jatuh bangun yang melelahkan. Bahkan saat kegigihan sedang ditempa, tak jarang banyak orang yang memandang sebelah mata. Meremehkan niat, kemampuan, dan impian-impian besar yang ingin diwujudkan segera. Tapi,

yang pernah diremehkan

Unik memang, karena diremehkan ternyata tidak melulu berakhir buruk bagi seseorang. Ada kalanya justru ‘pernah diremehkan’ membuat seseorang menjadi lebih kuat. Alih-alih terpuruk, ia malah bangkit dan semakin gigih untuk melakukan yang terbaik. Bukan sebagai pembuktian pada orang yang pernah meremhkan, tapi semata-mata demi tujuan awal – menggapai apa yang paling diinginkan.

Selain menyadarkan saya untuk memperbaiki diri, diremehkan orang lain justru membuat saya terpacu. Bahwa dengan keterbatasan yang saya punya, saya tetap menyimpan keyakinan atas mimpi dan harapan-harapan saya. Dan dengan keterbatasan yang saya punya pula, saya mau terus gigih berusaha.

Setiap orang tentu punya cara yang berbeda untuk menghadapi situasi semacam ini. Ada yang mungkin sedih, marah, atau bahkan biasa saja ketika diremehkan oleh orang lain. Untungnya, saya merasa bisa menghadapi hal ini dengan cukup bijaksana. Tidak semata-mata marah, sedih, atau bersikap cuek tanpa keinginan untuk introspeksi diri. Ketika diremehkan oleh orang lain, saya justru segera melakukan refleksi.

Tentu saja bukan semata-mata ingin membuat pembuktian. Bagaimana pun, mendapat pengakuan bukan hal utama yang ingin saya kejar. Lebih dari itu, kepuasan atas perjuangan diri sendiri justru yang paling saya inginkan. Saya mau sukses karena saya memang ingin. Saya mau berhasil karena memang saya mau.

Pertanyaan-pertanyaan macam itu akan beberapa saat berputar-putar dalam kepala. Bukan hanya emosi, menyimpan dendam, atau justru merutuki diri – yang saya lakukan justru semata-mata ingin memperbaiki jika ada kekurangan yang saya miliki.

Mendengar kalimat semacam itu misalnya, wajar jika saya merasa sakit hati. Saya dianggap tidak punya cukup kemampuan. Orang lain tidak percaya dengan apa yang mungkin sebenarnya bisa saya kerjakan. Padahal, sepatutnya saya diberi kesempatan. Menunjukkan apa yang saya bisa kerjakan, tidak lantas begitu saja diremehkan.

Di dunia ini, tidak seorang pun manusia yang mau direndahkan dan diremehkan. Pada hakikatnya, manusia lebih suka dipuji atau dielu-elukan. Itulah alasan mengapa banyak orang yang akhirnya berusaha memaksimalkan kemampuan diri, salah satunya agar tidak diremehkan atau sekadar butuh pengakuan.

Dari saya,

Prinsip itulah yang akhirnya mendorong saya untuk sadar. Meskipun pandangan remeh dari orang lain itu ibarat tamparan, tamparan itu juga yang membuat saya bangun – bangun untuk segera melakukan sesuatu. Jika benar kemampuan yang saya miliki memang kurang, satu-satunya yang harus dilakukan adalah membuat perbaikan.

“Dan ketika kekuatan itu munculnya dari dalam diri. Bukan hal yang mustahil untuk menggapai apa yang paling diingini.”

“Kenapa sih saya diremehkan? Apa mungkin saya memang belum punya cukup kemampuan? Atau, orang yang merehkan saya sebenarnya hanya iri dan tidak senang?”

Maka, saya berterima kasih untuk siapa saja yang dahulu pernah meremehkan saya. Terima kasih karena pernah menyakiti hati saya. Terima kasih pernah menyadarkan saya untuk bangkit dan melakukan perbaikan. terima kasih karena telah mamacu diri saya untuk mewujudkan apa yang paling saya impikan.

“Haruskah saya merasa tak terima? Tidakkah diremehkan malah membuat semangat saya berlipat-lipat kuatnya?”