Rumah Bubungan Tinggi, Rumah Tradisional 「Best online casino in Indonesia」Kalimantan Selatan

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:bet36sportsbetting

Ada tBest onBest onlBest online casino in Indonesiaine casino in Indonesialine casino in IndonesiaiBest online casino in IndonesiaBest online casino in Indonesiaga pemisah dalam ruang tersebut, yakni dinding muka (tawing hadapan), dinding pembatas dalam (tawing halat), dan dinding pembatas dapur (tawing pahalatan padu).

Ruang tamu bersifat publik atau semi publik. Di mana pada ruang tamu terbagi atas empat ruang, yaitu ruang antara (pacira), ruang tamu (panampak kecil), ruang tamu tengah (panampak tengah), dan ruang tamu utama (panampak besar).

Dinding dan lantai rumah disusun renggang, ini untuk ventilasi udara dan jalannya aliran air ke kolong rumah.

Bagian badan terdiri beberapa ruang. Secara umum ruang yang ada pada rumah Bubungan Tinggi dapat dikelompokkan atas empat ruang.

Karena curah hujan yang tinggi, atap rumah Bubungan Tinggi dibuat dengan kemiringan 45 derajat. Ini dilakukan agar aliran air hujan cepat mengalir ke tanah.

Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton.

Ruang pelataran merupakan ruangan berdninding terbuka dengan atap yang tertutup sebagian. Pelataran merupakan pengganti halaman rumah bagi masyarakat suku Banjar,

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud), bagian kaki merupakan tiang utama penyokong struktur bangunan yang terdiri dari tiang utama dan tiang penyangga.

Rumah Bubungan Tinggi berbentuk panggung dengan pondasi berbentuk titik dan atap miring berukuran besar.

Pada penutup atap terbuat dari sirap. Sirap tersebut terdiri atas beberapa lapis agar lebih kuat menahan air hujan.

Secara morfologi bangunan rumah Bubungan Tinggi terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kaki, bagian badan, dan bagian atap.

Keagungan seorang pengusaha pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran, kualitas seni, dan kemegahan bangunan kerajaan.

Atap yang lebar di bagian depan rumah memiliki tujuan agar rumah memperoleh sinar matahari langsung dari samping.

KOMPAS.com - Rumah tradisional provinsi Kalimantan Selatan disebut rumah Bubungan Tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Baca juga: Sunan Drajat, Mengajarkan Catur Piwulang

Dilihat dari bentuk bangunannya, rumah tersebut memang memiliki bubungan atau puncak rumah yang tinggi.

Ruang pelayanan terbagi menjadi empat ruang yaitu, ruang saji dan ruang makan (penampik dalam atau panampik padu), ruang dapur (padapuran atau padu), ruang penyimpanan (jorong dan ruang teras belakang) (palataran belakang).

Baca juga: Sunan Kudus, Menghormati Ajaran Hindu

Adapun kayu ulin dipakai sebagai bahan untuk dinding, lantai, dan atap.

Rumah Bubungan Tinggi terbuat dari dua jenis kayu yang tahan air dan panas, yaitu kayu galam dan kayu besi atau kayu ulin.

Pintu dan jendela memiliki fungsi mengatur aliran udara, bukan untuk mengatur cahaya atau sinar matahari yang masuk.

Jika pada umumnya rumah panggung memiliki kolom rumah untuk tempat bermain atau menyimpan hewan ternak, kolong rumah Bubungan Tinggi digunakan untuk menambatkan perahu atau menyimpan balok-balok tidak terpakai.

Ruang tinggal atau hunian merupakan area yang sangat privat. Di mana pada ruang tinggal terbagi menjadi tiga ruang, yaitu ruang keluarga (paledangan), ruang tidur orang tua (anjung dan anjung jurai), dan ruang tidur untuk anak (karawat dan katil).

Tinggi kolong rumah sekitar 1,5 - 2 meter, di mana berfungsi untuk menghindari pasang surut air sungai.

 Baca juga: Sunan Giri, Menyebarkan Islam Lewat Permainan Kanak-kanak

Baca juga: Rumah Betang, Rumah Adat Kalimantan Tengah

Berikut empat kelompok ruang:

Baca juga: Rumah Lamin, Rumah Adat Kalimantan Timur

Dikutip dari buku Iklim Tropis dan Uniknya Bentuk Rumah Tradisional Nusantara (2019) karya Nur Inayah Syar, rumah tradisional tersebut merupakan jenis tertua dan berada pada level tinggi dari sebelas jenis kelompok rumah tradisional suku Banjar.

Pada masa Kasultanan Banjar, rumah Bubungan Tinggi diperuntukkan bagi kaum bangsawan atau pedagang kaya (saudagar).

Dikutip dari buku Ayo Mengenal Indonesia : Kalimantan 2 (2010) karya N. Arie Any, umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan beranjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama.

Ruang pelataran memiliki tiga ruang, yaitu pelataran muka (surambi muka), pelataran tengah (surambi sambutan), dan pelataran dalam (lapangan pamedangan).

Keempat ruangan tersebut hanya dipisahkan oleh dinding atau yang disebut tawing.

Atap yang berukuran besar berfungsi sebagai pengatur dan penyimpan panas agar dapat menghangatkan ruangan pada malam hari.

Kayu galam dipakai sebagai pondasi yang ditanam di dalam air dan tahan terhadap pelapukan.

Karena wilayah Kalimantan Selatan memiliki kondisi iklim tropis yang ditandai dengan kelembapan udara dan curah hujan yang tinggi.

Oleh karena itu, rumah tersebut disebut rumah ba-anjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa tipe rumah Banjar yang tidak beranjung.