World Bookmaker Ranking_Online cash casino_Casino platform registration_Bookmaker Ranking

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:bet36sportsbetting

OrIndonesia online casinoindonesia online casinoang anggap skripsi Komunikasi iIndonesia online casinotu gampang. Bro, padahal nggak juga Bro. Butuh riset dan waktu penelitian yang panjang. Nggak jarang bisa sampai bertahun-tahun, lho!

Tapi masuk Komunikasi gak serta-merta bikin kamu kayak Pak Jakob Oetama atau Effendi Ghazali. Ada asam garam akademis yang harus kamu telan: disangka gampang tugasnya, gak jelas kuliahnya, sampai konon sulit cari kerjanya.

Anak-anak komunikasi sini tos dulu dah!

Akhirnya, setelah semester pertama terlewati tugas bersifat praktikum datang juga. Kamu mulai harus menulis berita. Kamu mulai diajari bagaimana memegang kamera.

Yeeeeey! Aku diterimaaaa! Pa, Ma! YEEEY! Masa depanku cerah! via elitedaily.com

Kamu malah akan dapat kuliah soal sejarah, teori, dan analisis. Nama-nama mata kuliahmu:

Atau mungkin dari kecil kamu suka baca koran dan memoar perjalanan wartawan kayak Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Idealisme mereka bikin hati kecilmu membara. (Gila, ada bener gak ya anak kayak gini.)

Di jurusan ini kamu mencoba untuk memahami pasar, mengerti cara berpikir manusia, mempelajari psikologi dan melek hukum. Mahasiswa komunikasi memang dituntut untuk punya kemampuan adaptasi selicin belut. Harus tahu banyak dan mau terus belajar banyak hal.

Bukan soal photoshop doang

Please, tolong bedakan antara metode komunikasi yang persuasif dan berbohong. Berbohong itu kalau kita mengungkapkan fakta yang tidak sebenarnya. Saat sebuah fakta yang diungkapkan dibungkus dengan kreativitas agar terlihat lebih menari, ini adalah upaya kami untuk meyakinkan orang lewat metode komunikasi yang persuasif.

Ilmu komunikasi jauh di luar bayanganmu selama ini. Dan pastinya sangat jauh dari bayangan orang-orang yang gak kuliah Komunikasi sama sekali.

Jurusan Akuntansi belajar pembukuan, hitung-hitungan, pajak, dan sedikit ilmu wiraswasta. Jurusan Kedokteran belajar anatomi, virologi, sampai etika biomedis. Jurusan Komunikasi belajar apa?

Mahasiswa Komunikasi : Untung kita cuma bersaudara jauh, om!!! (diucapkan dalam hati seperti sinetron GGS)

*harus shalat istikharah dulu*

Mahasiswa Komunikasi : Lho kok bohong om?!

Bukan praktikum fisika atau kimia yang melibatkan tabung reaksi. Di jurusan komunikasi ada praktikum siaran televisi, siaran radio, fotografi dan praktikum jurnalistik.

Sodara Jauh : Itu iklan, isinya bohong semua. Yang bikin ‘kan anak komunikasi

Begadang bikin film, menggodok ide untuk iklan, sampai menulis news feature itu sama sekali gak gampang. Tapi selalu ada kepuasan setiap kamu menghasilkan suatu karya. Selalu ada kebahagiaan saat informasi yang kamu sampaikan ternyata bisa membawa perubahan bagi kehidupan orang yang menerimanya.

Ada tugas menulis? Nanti aja, tunggu menit-menit terakhir dikerjakan. Dosen nanya mau ujian tertulis atau take home? Ya, take home-lah!!! Anak komunikasi juga gak kenal dengan yang namanya dress code. Kamu percaya bahwa berpakaian rapi gak ada hubungannya dengan isi otak kamu.

Jadi, masuk Jurusan Komunikasi Itu Banyak Dukanya Dong?

Lagipula siapa yang pernah bilang ilmu komunikasi sama dengan terapi bicara? Ada banyak saluran buat manusia untuk menyampaikan pesan, bukan cuma berkoar-koar doang.

Bapak dan Ibu yang terhormat, semua orang bisa pidato tanpa harus kuliah di jurusan komunikasi dulu.

Termasuk aktor ganteng Aiman Ricky nih yang udah berhasil lewatin masa-masa jadi anak komunikasi.

Namanya juga mahasiswa, ya harus baca buku juga! Mau gak mau kamu mulai berkenalan dengan nama Harold Laswell, Denis McQuail, Habermas, dan Littlejohn.

Kayaknya ijazah kamu cuma buat legitimasi pemanggilan wawancara kerja, deh.

Tapi tetap aja, di antara semua duka itu, yang kamu rasakan hanya gembira. Lah, kok bisa? Iya. Memang cuma mahasiswa Komunikasi yang paham gimana bisa bahagia belajar di jurusan seperti ini:

Siapa yang memiliki informasi, dia yang memegang kendali. Mungkin itu kenapa banyak anak muda yang berambisi kuliah di jurusan Komunikasi. Bahkan, beberapa tahun terakhir ini Ilmu Komunikasi jadi salah satu pilihan jurusan terpopuler di Indonesia. The new cool thing gitu, deh.

“Kalau ngomongnya sembarangan kayak situ, semua orang juga bisa!!!”

Sama kayak iklan, film juga bisa menyihirmu. Rasanya seru membayangkan gimana kerennya dirimu saat bisa memproduksi, menyutradarai, atau menjadi penulis naskah sebuah film. Kamu pengen kayak Stanley Kubrick, Alfred Hitchcock, Usmar Ismail dan Garin Nugroho yang bisa menyihir orang lain lewat karya-karya mereka. Itu mimpi besar sih, tapi ‘kan bukan dosa juga.

Selalu mencoba melakukan secara kreatif via unmer.ac.id

Walaupun di masa kecil kamu sering nonton berita, sebenarnya sih yang kamu suka bukan isi beritanya. Para anchor di TV-lah yang bikin kamu terpana. Arief Suditomo, Desi Anwar, Jeremy Teti, Ira Kusno…yah, kalo sekarang semacam Marissa Anita atau Tim Marbun gitu deh. Kamu pun bertekad: kalau besar, kamu mau jadi kayak mereka.

Tapi bentaaar….kok tugas fotografi, produksi siaran, produksi iklan, dan produksi majalah barengan ya? Kapan kamu tidurnya? Hahahahaha.

“Gue salah jurusan kali ya??”

Kamu pun sadar ini semua gara-gara jurusanmu tergabung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hah. Kamu gak tahu apa ini keuntungan atau kutukan.

Padahal kamu harus lulus UN dulu baru bisa ikut SNMPTN. Semangat!!

Gak percaya? Liat aja Tina Talisa yang latar belakang pendidikannya dokter gigi. Najwa Shihab, anchor ternama itu juga datang dari Jurusan Hukum. OOOH, KENAPA KALIAN MENGAMBIL LAHAN KAMI. KENAPAAAA????

Lalu membandingkannya dengan negara lain hanya untuk mengetahui bahwa praktik media massa di negaramu is sh*t as hell.

Mereka berusaha keras untuk tampil fresh dengan bergaul dengan anak muda, selalu up to date karna gak mau ketinggalan dari mahasiswa, dan gak jarang beberapa dosen komunikasi lebih senang dipanggil dengan sebutan “mas”, “bang”, atau “mbak”.

TIDAK!

Belajar di Jurusan Komunikasi itu gak ada titik berhentinya. Kalau kamu mau bertahan, kamu harus terus belajar untuk membaca tren dan mengikuti keinginan pasar.

Sodara Jauh : Ambil kuliah jurusan apa?

Belajar Ilmu Komunikasi membuka wawasan kamu soal HAM, kebebasan berekspresi, toleransi, dan berpikiran terbuka. Kamu baru sadar kalau ternyata organisasi butuh komunikasi. Kalau komunikasi erat kaitannya dengan pemasaran. Kalau pemasaran, psikologi, dan komunikasi bisa harus dipelajari secara bersamaan. Kalau untuk berkembang, tidak cukup berkutat pada satu bidang.

Sodara Jauh : Wah ilmu berbohong, dong!

Bukannya belajar soal metode penulisan naskah film atau teknik-teknik dasar wawancara, di semester awal kamu justru bakal dihajar mata kuliah “Sejarah Sosial dan Politik Indonesia” dan “Pengantar Ilmu Politik”. Semangatmu pun langsung pudar.

Awalnya, kamu bingung kenapa harus belajar filsafat dan sejarah di jurusan Komunikasi. Sekarang, kamu tahu bahwa ilmu yang baik bukanlah ilmu yang mengkotak-kotakkan, tetapi ilmu yang menghubungkan. Menghubungkan satu bidang ke bidang lainnya, satu wacana ke wacana lainnya.

NAH LHO, ITU BARU BIKIN IKLAN SETENGAH MENIT LHO. GAMPANG HMMM? GAMPANG?

*kemudian langsung hibernasi*

Separuh pikiran udah di jurusan komunikasi via jogjamu.com

“Mana nih yang mau diambil? Jurnalisme, public relations, periklanan?”

Mungkin karena stereotip, kamu beranggapan anak-anak Komunikasi itu gaul-gaul semua. Pinter ngomong, bisa bawa diri, dan kalau cantik atau ganteng bisa jadi artis. Padahal sih sebenarnya nggak juga.

Untungnya kamu tinggal di Indonesia, negara di mana fenomena sosial, politik, ekonomi, dan hukum selalu bisa dilihat dari bingkai komunikasi. Tinggal nonton TV 10 menit, kamu udah dapat bahan buat menulis esai. Memang terdengar simpel, tapi jika ini dilakukan setiap hari selama 4 tahun? Bisa-bisa muntah koran kamu!

Bukan cuma saat kuliah, sesi brainstorming juga terus kamu lakoni saat sudah menjadi pencari kerja. Harus pinter-pinter putar otak biar bisa diterima

Untungnya, selain mata kuliah ilmu politik kamu juga mulai diajarkan ilmu komunikasi yang sebenarnya. Tapi apakah disini kamu bakal diajarin skill mewawancara? Mengambil gambar? Mengerjakan desain grafis? Memproduksi siaran?

Padahal mungkin kamu gak pernah baca buku-buku setebal ini sebelumnya. Palingan juga kamu baca Golden Boy.

Lah? Komunikasi? Maksud kamu “telekomunikasi”, kali!

“Bapak, Ibu, jadikan aku pembawa acara terkenal! Jadikan aku penulis handal calon pemenang Pulitzer! Jadikan aku fotografer seperti Darwis Triadi! Aku siap belajar di bawah sayapmu dan cahaya pelitamu!”

Mau dibilang kuliahnya gak jelas, cari kerjanya susah, tukang bo’ong, mahasiswanya pemalas dan sebagainya kamu gak pernah menyesal kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Dulu, kamu gak pernah kepikiran bakal menikmati bikin iklan. Mungkin kamu masuk Komunikasi karena bercita-cita kerja di koran. Dulu kamu nggak tertarik sama yang namanya Komunikasi Politik. Sekarang bidang ini jadi cita-citamu. Sepanjang Pilpres 2014 kemarin, misalnya, kamu asyik banget mengawasi kampanye masing-masing calon.

Semua itu dilakukan hanya demi kalimat, “Oke, nice” dari dosenmu. Fyuuuuhhhh~

Pindah-pindah “aliran” udah jadi hal yang lumrah bagi mahasiswa Komunikasi. Biasa, tuntutan jurusan. Kita ‘kan harus luwes dan gampang adaptasi gitu.

(halah. tapi serius nih.)

Mau pinter bicara? Lah, memangnya sekarang belum bisa bicara?”

Awalnya, kamu terpesona karena jingle iklan yang sangat mudah diterima telinga. Jargon iklannya pun bisa berputar di kepalamu hingga berhari-hari, padahal iklannya sendiri cuma berapa detik. Lama-lama kamu pun penasaran gimana sebuah iklan dibuat.

Proses menciptakan iklan berdurasi 30 detik:

Sungguh kejam! Masa anak komunikasi distereotipkan dengan penampilan ganteng atau cantik, gaul, sukanya hedon. Harusnya mahasiswa komunikasi juga dilihat sama seperti mahasiswa lain, dari prestasi dan karyanya!

Udah pintar ngeles bisa menyampaikan maksud seperti itu, berarti kamu punya bakat alamiah buat kuliah di jurusan Komunikasi! Kamu pun makin yakin dengan masa depanmu.

“Kamu mau bisa nulis? Memangnya sekarang kamu belum bisa nulis? Terus Papa ngajarin apa dulu pas kamu kecil?

Suasananya yang rame tapi tetap santai, anak-anaknya yang kreatif serta dosen-dosen yang lumayan “gaul” dan melek teknologi membuatmu bersyukur udah memilih jurusan yang sesuai dengan selalu dipandang sebelah mata namun sebenarnya punya pengaruh besar dalam arus informasi, pemasaran dan penyelesaian konflik.

Emang benar kami dibekali skill public speaking, tapi bukan itu saja yang kami pelajari via manunggal.undip.ac.id

Bahkan Kementertian Komunikasi dan Informatika aja gak bisa kamu harapkan sebagai benteng perlindungan terakhir.

Selow~ yang penting tugas jadi.

Mahasiswa Komunikasi : Ambil ilmu komunikasi, om.

Banyak anak Komunikasi yang akhirnya masuk jurusan ini karena pas kecilnya kebanyakan nonton berita. Dunia Dalam Berita di TVRI, lebih tepatnya.